Ziarah ke makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi memiliki adab tersendiri agar tetap khusyuk dan sesuai tuntunan. Simak panduannya.
Menziarahi makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, Madinah, adalah momen yang dinanti banyak jamaah umroh dan haji. Makam beliau berada di dalam bilik yang dahulu merupakan rumah Aisyah, bersebelahan dengan makam dua sahabat mulia, Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Agar ziarah berjalan tenang dan sesuai tuntunan, ada beberapa adab yang sebaiknya diperhatikan.
Pertama, niatkan kunjungan ini sebagai bagian dari mengunjungi Masjid Nabawi. Para ulama menganjurkan agar seseorang berangkat ke Madinah dengan niat menziarahi masjid Nabi, sementara ziarah ke makam beliau mengikuti setelahnya, bukan menjadi tujuan utama perjalanan.
Kedua, datanglah dalam keadaan suci, berpakaian sopan, serta menjaga ketenangan hati. Masuki area dengan tertib mengikuti alur dan arahan petugas, sebab jumlah peziarah sangat banyak setiap harinya. Ketertiban Anda adalah bagian dari penghormatan kepada tempat mulia ini.
Ketiga, saat berada di depan makam, ucapkan salam kepada Rasulullah SAW dengan suara lirih dan penuh adab, misalnya "Assalamu'alaika ya Rasulallah". Kemudian bergeser sedikit untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar, lalu kepada Umar bin Khattab.
Keempat, tujukan doa hanya kepada Allah. Berdoa dianjurkan sambil menghadap kiblat, bukan menghadap makam. Permohonan ampunan, hajat, dan kebaikan ditujukan kepada Allah semata, karena Rasulullah sendiri mengajarkan bahwa segala permintaan hanya kepada-Nya.
Kelima, jagalah beberapa hal yang tidak diajarkan: jangan mengangkat suara berlebihan, jangan mengusap atau mencium jeruji makam, jangan bertawaf mengelilingi makam, dan jangan berdesakan hingga menyakiti sesama. Adab kepada Rasulullah justru ditunjukkan dengan ketenangan dan penghormatan.
Keenam, sempatkan salat dan berdoa di Raudhah, area antara mimbar dan rumah Rasulullah yang disebut dalam hadits sebagai salah satu taman surga. Untuk memasukinya kini diperlukan tasrih atau izin yang dapat diperoleh melalui aplikasi resmi Nusuk sesuai jadwal.
Ziarah ke makam Rasulullah SAW bukanlah tujuan ibadah itu sendiri, melainkan sarana menumbuhkan cinta dan meneladani beliau. Pulanglah dengan tekad memperbanyak shalawat serta mengamalkan sunnah dalam keseharian. Dengan menjaga adab, ziarah menjadi pengalaman ruhani yang menenangkan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.
Waktu ziarah sebaiknya dipilih pada saat yang tidak terlalu padat, misalnya setelah salat Subuh atau menjelang tengah malam, agar Anda dapat lebih tenang dan tidak berdesakan. Bila ada kerabat atau saudara yang menitipkan salam untuk Rasulullah SAW, Anda dapat menyampaikannya dengan menyebut, "Assalamu'alaika ya Rasulallah, salam ini dari fulan". Ini bagian dari kebiasaan baik para ulama terdahulu.
Setelah berziarah ke makam Rasulullah, banyak jamaah juga menyempatkan diri menziarahi pemakaman Baqi yang berada tidak jauh dari Masjid Nabawi. Di sana dimakamkan banyak sahabat, istri, dan keluarga Rasulullah SAW. Ucapkan salam kepada penghuni kubur sebagaimana yang diajarkan, doakan mereka, dan jadikan kunjungan ini sebagai pengingat akan kematian serta kehidupan akhirat. Dengan begitu, seluruh rangkaian ziarah di Madinah menumbuhkan ketundukan hati dan memperkuat tekad untuk memperbaiki amal.